Perjuangan Wanita Dalam Remunerasi Belum Selesai

Setiap bulan April, tajuk pembahasan di Indonesia seringkali berkisar tentang keperkasaan dan sumbangsih wanita yang dikaitkan dengan perjuangan pahlawan wanita Kartini. Namun, apakah memang setelah lebih dari satu abad meninggalnya Kartini, wanita telah dianggap setara dibanding pria?

Jawabannya pasti beragam. Bagi sebagian orang yang setuju, banyaknya wanita yang menduduki posisi strategis puncak pimpinan perusahaan maupun pemerintahan, dijadikan bukti. Sebut saja Sri Mulyani Indrawati - salah satu idola saya - yang berhasil menggaet gelar Menteri Keuangan terbaik Asia, gubernur provinsi pertama Ratu Atut Chosiyah Gubernur Banten, Kapolda wanita pertama Brigjed Rumiah. Bahkan diluar itu, Dr Pratiwi Pujilestari Soedarmono, Ph.D hadir sebagai tidak hanya wanita, tapi satu-satunya astronot Indonesia. Sementara di korporat, tidak terhitung deretan pimpinan pucuk perusahaan selevel direktur.

INDONESIA ECONOMY/FUEL

Kemudian bagaimana dengan apresiasi yang mereka terima? Apakah selaras dengan kesempatan yang diberikan kaum pria bagi para srikandi? Sayang sekali belum ada penelitian yang membandingkan remunerasi antara eksekutif pria dengan wanita. Tampaknya Majalah Human Capital harus segera mengambil inisiatif mencari partner konsultan yang berminat melakukan studi menarik ini.

Majalah Forbeslife Executive Woman setiap tahunnya membuat daftar “100 wanita berpenghasilan tertinggi di perusahaan Amerika”. Hasilnya cukup membuat kita menganga. Pada hasil tahun 2008, mereka berpenghasilan paling rendah $3 juta hingga $120.4.

Puas? Tunggu dulu. Memang Departemen Tenaga Kerja Amerika mengungkapkan bahwa perbedaan gaji antara pria dan wanita hanyalah $0.21. Namun untuk mereka yang di puncak, perbedaan ini semakin mencolok. Lihat saja hasil “100 pria berpenghasilan tertinggi di perusahaan Amerika” yang dengan sangat dermawan membagikan minimum gaji $18 juta. Masih perlu kalkulator untuk menghitung perbedaannya??

Penelitian lain tentang bisnis Inggris, “Who Gets the Carrot and Who Gets the Stick? Evidence of Gender Disparities in Executive Remuneration”, mengungkapkan penemuan serupa. Mereka mempelajari bonus yang dibagikan oleh 96 perusahaan pada eksekutifnya selama tahun 1998 hingga 2004. Mereka menganalisa hubungan performa bisnis perusahaan dengan bonus tahunan.

Hasilnya dikatakan bahwa saat perusahaan berubah nasib menjadi lebih baik, maka eksekutif pria dapat berharap mendapat kenaikan bonus sebesar 263 persen. sementara eksekutif wanita diharapkan cukup berbahagia dengan kenaikan 4 persen. Saya yakin, Anda masih tetap tidak membutuhkan kalkulator membandingkan angka ini.

Saatnya kita mendengar opini praktisi maupun konsultan Compensation and Benefit tentang ulasan ini? Lebih menarik lagi, jika ada yang bisa mengungkapkan fakta yang terjadi di Indonesia.

Sementara itu, wahai kaum wanita, janganlah lengah. Yakinlah pada kemampuan yang dimiliki, buktikan dan hilangkan keraguan saat bernegosiasi. Selamat berjuang.

Malla Latif, Pemimpin Perusahaan Majalah HC


Beri Komentar