Mencuri Tugas Baru Public Relations
Saya cukup merasa beruntung sekaligus agak bingung, saat suhu sekaligus sahabat saya, pak Nukman Luthfie mengundang untuk menghadiri seminarnya yang bertajuk “Sharpening Your Online Public Relation Strategy” pada 5 Maret 2009, di Ritz-Carlton Jakarta.
Bagaikan lagu Sting, saya merasa seperti legal alien, berada di komunitas PR dan marketer. Akan tetapi tidak lebih setelah 15 menit berlalu, tanpa terasa saya mulai hanyut dalam paparan beliau.
Istilah yang kadang terasa asing, tampaknya tidak mampu membendung keingintahuan saya tentang bagaimana berkuasanya branding online dalam membolak-balik image sebuah produk, yang tentunya langsung berdampak pada tingkat penjualan. Lalu siapa yang pegang tali kendali? Ternyata Public Relation yang mendapat kehormatan ini. Selanjutnya, senjata apa yang mereka gunakan? Beragam, mulai dari blog, forum, milis, sampai social media seperti Youtube, Friendster, Facebook, Twitter dan Plurk. Terasa menyenangkan? Pasti. Namun memimpin orkestra semua kanal tersebut agar sejalan sekaligus terbukti dalam grafik penjualan bukan tugas yang mudah. Beberapa istilah lain berderet menunggu untuk dipahami, termasuk Marketing Communication, Online Media, Teknologi Informasi dan yang terpenting Online Behaviour. Khusus untuk yang terakhir ini, saya akan membahasnya pada tulisan terpisah. Mengingat istilah ‘behaviour atau tingkah-laku’ dekat dengan keseharian pekerjaan praktisi SDM.
Terakhir kasus dalam negeri turut dipresentasikan sebagai contoh sukses yang dapat memacu semangat. Pertama, bagaimana strategi PR yang dikombinasikan dengan pendekatan media online, berhasil menghilangkan berita negatif yang sempat menempel di Oli Top 1. Dilanjutkan dengan menguatnya brand kecap Bango melalui keberhasilan program Festival Jajanan Bango. Salah satu upayanya adalah mengajak komunitas pencinta kuliner bekerja sama (dimana saya ingin sekali menjadi anggotanya). Selain kedua cerita diatas, Pak Nukman juga berbagi mengenai bagaimana Facebook didayagunakan sebagai perantara Toyota Astra Motor dalam membangun komunitas dengan meminta mereka men-tag foto bersama Yaris.
Amalia Maulana, Malla Latif, Nukman Luthfie
Pembelajaran bagi saya pribadi adalah janji pada diri sendiri untuk menjadi “fakir seminar” alias menghadiri undangan seminar apapun. Sebab tema apapun yang dijunjung, hampir pasti akan melibatkan faktor kontribusi manusianya. Lalu bagaimana hal ini dilihat dari kacamata keseharian praktisi Human Capital? Sebenarnya banyak. Mulai dari kompetensi, rekrutmen, hingga organisasi. Namun disini saya pilih satu yang terpenting.
Menurut saya, ini harus diawali dengan perubahan cara pandang, bahwa tidak ada hal yang sepenuhnya negatif atau positif. Tidak sedikit rekan kerja saya yang bercerita dan mengeluhkan akses mereka ke dunia maya terbentur peraturan divisi SDM. Blackberry yang dibagikan oleh perusahaan seringkali sulit dipergunakan secara optimal dengan pemblokiran beberapa program.
Akhirnya memang perlu disadari bahwa fasilitas online memang bagaikan pisau bermata dua. Disatu sisi mengurangi produktifitas karyawan, tapi disisi lain terbukti mampu menumbuhkan kreatifitas dan meningkatkan performa kerja. Saya tidak pula menganjurkan semua perusahaan segamblang Telkom yang meminta karyawannya memiliki akun di Facebook. Tentunya semua harus tetap mempertimbangkan strategi bisnis, kultur serta organisasi dari masing-masing perusahaan. Dengan demikian diharapkan peraturan dari divisi SDM yang lahir mampu sepenuhnya mendukung keberhasilan perusahaan dan bukan sekedar kewajiban administrasi yang harus dipenuhi.
Malla Latif, Pemimpin Perusahaan Majalah HC
Tautan: Amalia Maulana, Online PR Strategy dari Sang Pakar
- Tidak ada komentar
- Print Artikel Ini
- Kirim ke Teman



Beri Komentar