Parwati Surjaudaja: Wanita Pekerja, Berani untuk Maju
Saat masih kanak-kanak, Parwati kecil bercita-cita menjadi dokter anak. Alasannya sederhana. Di keluarga besarnya banyak yang berprofesi sebagai dokter, yakni kedua kakaknya, paman, termasuk ipar-iparnya. Seiring berjalannya waktu, cita-cita itu hanya menjadi impian semata. Parwati Surjaudaja akhirnya memilih jurusan akuntansi yang dinilainya menjadi inti dari suatu bisnis. Akan tetapi, saat itu ia belum terpikir untuk bekerja di bank.
Pada 1987-1990, Parwati sempat bekerja di perusahaan konsultan SGV Utomo/Andersen Counsulting. Posisinya terakhir sebagai Senior Consultant. Setelah itu, keluarganya meminta Parwati untuk membantu Bank NISP, bank yang dibangun oleh ayahnya sendiri, Karmaka Surjaudaja. Kariernya di Bank NISP dimulai sebagai Direktur yang meliputi bidang Audit, Accounting & Finance, dan Human Resources.
Menengok perjalanan Bank NISP, bank ini berkembang pesat selepas krisis ekonomi yang mendera Indonesia pada 1998. Perkembangannya yang positif menarik minat Bank OCBC Singapura untuk membeli 74,73% sahamnya. Dengan masuknya Bank OCBC, bank yang berdiri di Bandung sejak 1941 ini berubah nama menjadi Bank OCBC NISP. Upaya menggandeng bank asing dilakukan keluarga Surjaudaja karena mereka bercita-cita pada 2013 Bank OCBC NISP menjadi 5 besar di antara bank-bank swasta nasional.
Perubahan besar-besaran pada Bank OCBC NISP tidak hanya terjadi pada struktur kepemilikan pemegang saham, tetapi juga di jajaran direksi. Sejak beberapa bulan lalu, Parwati dipercaya sebagai Presiden Direktur & CEO Bank OCBC NISP. Ia menggantikan kakaknya Pramukti Surjaudaja yang kini menjabat Presiden Komisaris menggantikan sang ayah yang telah pensiun.
Wanita kelahiran Bandung, September 1964 ini mengutarakan, ia meyakini posisi untuk bankir perempuan di Indonesia saat ini dan ke depan akan semakin terbuka. Ini berbeda dengan kondisi di masa lalu di mana profesi bankir masih didominasi oleh laki-laki. Di Bank OCBC NISP sendiri, ungkapnya, saat ini sekitar separuh dari jabatan kepala divisi dan kepala cabang dipegang oleh perempuan. Diakuinya, tidak mudah menjadi bankir perempuan karena nilai-nilai sosial menggiring mereka untuk memilih keluarga dan cenderung mengalah pada karier.
Menjadi orang nomor satu di perusahaan menuntut Parwati bekerja ekstra keras. Lulusan Akuntansi dan Keuangan dari San Francisco State University, California, ini mengakui gaya kepemimpinannya selama ini cenderung disiplin dan tegas. “Sikap tegas memang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, karena di saat tertentu dia harus mengambil satu keputusan. Seorang pemimpin juga harus berani mengakui kesalahannya kalau dia memang salah,” ujarnya menandaskan. Di samping itu, ia senantiasa berupaya untuk membuka diri dan mendengarkan keluh kesah karyawan.
Dalam menangani SDM, yang kerap dilakukan Parwati adalah mencari tahu dulu akar permasalahannya, kemudian mengidentifikasi dampaknya dan berusaha mengatasinya. Misalnya, yang ia mencontohkan, pada saat manajemen meluncurkan satu kebijakan baru untuk karyawan, biasanya terjadi perbedaan sudut pandang dari karyawan. “Maka kami harus memberikan pengertian kepada semua pihak, terutama mereka yang merasa seolah-olah idenya tidak terakomodasi dalam policy baru itu,” kata mantan Ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia di San Francisco State University, AS.
Tantangan terbesar yang dihadapinya saat ini adalah bagaimana mengatur waktu untuk berkomunikasi secara personal kepada karyawan. Apalagi saat ini lingkup organisasi semakin besar dan luas. Ditambah adanya perubahan dan rencana perusahaan yang begitu banyak, waktu pertemuan dengan karyawan menjadi salah satu perhatian utama Parwati. “Menurut saya, pertemuan satu per satu atau tatap muka dengan karyawan sangat penting. Sekarang kita terlau terlena dengan kemudahan email dan SMS,” ujarnya.
Mengenai perubahan di lingkungan perusahaan, nahkoda yang baru efektif membawa perahu perusahaan sejak Desember 2008 ini mengungkapkan, sebelumnya pada Oktober 2008 jajaran direksi OCBC NISP sudah mencanangkan perubahan yang cukup besar dan mendasar di berbagai lini perusahaan. Sehubungan dengan itu, saat ini Parwati sedang memastikan bahwa perubahan-perubahan itu bisa berjalan dengan efektif. “Kami ingin memastikan bahwa nasabah kami bisa dilayani dengan baik,” katanya mengungkapkan.
Sekadar gambaran, kalau dulu bank tidak terlalu membedakan segmen nasabah - misalnya nasabah yang pinjamannya Rp 10 miliar dengan nasabah yang pinjamannya Rp 100 juta - produk dan cara pelayanannya disamakan saja. Parwati menyampaikan, hal seperti itu yang kini sedang diperbaiki manajemen. “Saat ini kami ingin lebih fokus pada segmentasi nasabah. Untuk segmen komersial, misalnya, kami akan menentukan produk, layanan, kebutuhan personel, struktur organisasi, juga prosesnya,” ia mencontohkan.
Namun, Parwati belum berani mengatakan bahwa perubahan yang tengah terjadi di bank ini merupakan idenya sendiri. Hal ini lantaran dirinya baru menjabat sebagai Presiden Direktur selama tiga bulan. “Belum ada dampak yang signifikan,” katanya, “karena semua proses terlaksana secara berkesinambungan. Contohnya proses perubahan nama, seolah terjadi pada saat saya menjabat Presiden Direktur, tetapi prosesnya sudah cukup lama.” Parwati menilai, segala perubahan yang dilakukannya adalah melihat dari sisi kebutuhan perusahaan.
Mengenai perubahan nama dan logo, Parwati mengatakan, perubahan nama Bank NISP menjadi Bank OCBC NISP merupakan hal yang sangat monumental. “Ini tidak sebatas nama dan logo, namun perubahan menyeluruh yang bermuara pada terciptanya organisasi yang efektif dan memberikan manfaat bagi stakeholders,” ujarnya menandaskan. Melalui perubahan ini pula, Bank OCBC NISP memastikan bahwa seluruh stakeholders mendapat jaminan pelayanan yang lebih tepat dan sesuai kebutuhan.
Sejalan dengan fokus bisnisnya yang ditujukan untuk segmen UKM dan konsumer, Bank OCBC NISP akan menargetkan pasar tersebut untuk memberikan pelayanan syariah melalui tiga cabang syariah di Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Parwati menjelaskan, Bank OCBC Singapura sudah terlebih dahulu berhasil menjalankan usaha perbankan syariah melalui Bank OCBC Malaysia. Berdasarkan pengalaman itu, Bank OCBC Singapura memberikan dukungan penuh bagi Bank OCBC NISP untuk dapat berhasil menjalankan Unit Usaha Syariahnya di Indonesia.
Di luar itu, sebagai wanita yang bekerja, Parwati tidak melupakan perannya sebagai ibu. Buktinya, ia masih menjalankan fungsinya sebagai ibu dari keempat anaknya di rumah untuk masalah-masalah yang menurutnya menjadi otoritasnya seperti pendidikan dan kesehatan. Misalnya, menyempatkan mengawal kegiatan ekstra kurikuler anak-anaknya. “Sebagai wanita yang bekerja, kita perlu me-manage dengan baik waktu untuk keluarga dan kantor,” katanya menyarankan. Oleh karena itu, lanjutnya, wanita yang bekerja itu harus memiliki perencanaan jadwal (time schedule).
Kepada wanita pekerja Parwati juga berpesan, jangan takut untuk maju. Menurutnya wanita tidak mesti punya ambisi terlalu besar, tetapi yang terpenting melakukan hal yang terbaik dalam setiap pekerjaan. “Saya percaya semua sudah ada jalannya. Apapun tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada kita, pasti ada hikmah dan tujuannya,” tuturnya meyakinkan. Dan lagi, ia menambahkan, selama yang kita lakukan didasarkan pada niat yang baik, maka akan tercapai hasil yang baik pula.
Sementara itu, Managing Director OCBC NISP Rama P. Kusumaputra mengakui bahwa kepemimpinan Parwati cukup tegas dan sangat perhatian kepada karyawan di bawahnya, bahkan anak buahnya dianggap sebagai anaknya sendiri. Dalam pandangan Rama, kepemimpinan Parwati tak jauh berbeda dari sang kakak, Pramukti. “Maksud saya, sama baiknya,” ia meluruskan maksudnya. “Seseorang yang diangkat menjadi pemimpin sudah pasti memiliki kriteria sebagai pemimpin. Nah, bagaimana caranya memimpin, hal itu kembali kepada karakter masing-masing orang,” ujarnya menerangkan.
Rama menceritakan, setiap bertemu dengan Parwati saat berinteraksi di pekerjaan, selalu menjadi pengalaman menarik baginya. “Berbagai masalah kami diskusikan bersama untuk mencari jalan keluarnya. Begitu banyak kerja sama yang kami lakukan dengan baik sehingga mencapai tujuan sesuai yang direncanakan,” tuturnya. Rama bahkan berani memastikan, Parwati termasuk sosok wanita pemimpin yang berhasil menangani karyawan dan mengelola perusahaan yang sedemikian besar.
Rama berpendapat, di zaman modern ini sebaiknya tidak perlu memisahkan atau membeda-bedakan kualitas kepemimpinan wanita atau pria. “Mereka tidak bisa dibedakan dengan hanya melihat gender,” katanya yakin. Menurutnya, pria pemimpin belum tentu berkinerja lebih baik daripada wanita pemimpin. “Saya lihat banyak wanita yang bisa melebihi kemampuan pria,” tuturnya menutup pembicaraan.
Anung Prabowo
- Tidak ada komentar
- Print Artikel Ini
- Kirim ke Teman


Beri Komentar